Menjaga Eksistensi Pancasila

1479775954865

Sampai detik ini Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, welstanchauung-nya bangsa Indonesia. Pancasila pada tahun ini merayakan hari jadinya yang ke-71 tahun. Selama tujuh puluh tahun itu pula Pancasila tetap setia dan kokoh menjadi dasar negara bagi Indonesia.Dalam perjalanannya, Pancasila mengalami pasang surut dialektika. Pada masa kemerdekaan, Pancasila menjadi semacam suatu alat pemersatu bangsa. Walaupun terjadi beberapa kali perubahan redaksi, hal tersebut tidak mengurangi sakralitasnya. Pancasila membuat masyarakat Indonesia yang heterogen mempunyai suatu identitas kolektif baru sebagai bangsa.

“Difference in identity, identity in difference.” Ungkapan itulah yang kiranya tepat untuk menggambarkan identitas kolektif masyarakat Indonesia, yang terpengaruh oleh keberadaan Pancasila sebagai dasar negara.Ancaman eksistensi Pancasila pada puncaknya diuji dalam Sidang Badan Konstituante. Dalam sidang yang bertujuan membahas soal dasar negara itu, terjadi perdebatan yang sangat serius dan alot, tetapi lagi-lagi kekokohan atau kesaktian Pancasila—dalam istilah Orba—kembali terbukti. Dalam suatu proses sidang terlama sepanjang sejarah bangsa Indonesia tersebut, hasil akhirnya tetap menempatkan Pancasila sebagai dasar negara.

Ancaman terhadap Pancasila.

Selama puluhan tahun, komunis adalah musuh negara nomor satu. Monolog Tan Malaka,Belok Kiri Fest,Simposium Nasional tentang PKI,Seminar marxisme di FISIP Unpad,dll mulai dari bedah buku sampai symposium nasional semuanya mendapatkan perlawanan dari ormas seperti FPI dan ormas lainnya. Pemahaman sejarah yang salah membuat mereka menganggap bahwa komunis sama dengan atheis. Padahal jika kita benar memahami komunisme hanyalah antithesis dari thesis kapitalisme. Phobia terhadap komunisme di Indonesia memang berlebihan sampai perustakaan nasional mewacanakan akan memusnakan buku-buku “kiri”. Kalau anak sosial humaniora tidak membaca “Das Kapitas” Karl Mark nanti mereka disuruh baca buku Harun Yahya seperti anak saintek 

Bahwa Pancasila dijadikan dasar negara RI, bukan negara berasas agama apalagi komunis semua setuju dan bukan lagi saatnya untuk diperdebatkan. Namun bila karena itu perlu memberangus semua yang berbau komunisme, sepertinya sudah berlebihan. Justru, untuk mencegah ancaman komunisme itulah, saatnya rakyat terbuka untuk menilai secara kritis namun lebih dewasa terhadap apa yang selama ini dicap sebagai musuh bangsa. Caranya, tak lain dengan secara bertahap membuka ajaran tentang komunis dan ideologi-ideologi lain di kampus-kampus perguruan tinggi, bila perlu dimulai sejak dari bangku SLTA. Perkaya pustaka tentang kajian-kajian strategis, maupun perbandingan terhadap komunisme atau ideologi-ideologi lain. Hanya melalui itulah benteng terhadap ideologi apapun di luar yang disepakati bangsa sejak awalnya, dapat dibangun. Daripada membendung ideologi komunis yang jelas tidak relevan dengan kondisi masyarakat dunia saat ini lebih baik membubarkan organisasi yang makar terhadap NKRI seperti HTI
Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan fenomena ISIS yang sudah masuk Indonesia. Sebelumnya, ulama dan intelektual muslim Indonesia sudah lama berjuang melawan arus ideologi dan gerakan Islam transnasional yang datang dengan masif ke Indonesia melalui sayap-sayap organisasinya, yang bertujuan mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Apakah eksistensi Pancasila terancam dengan kondisi tersebut?
Jika kita melihat kembali sejarah, seperti yang sudah kita bahas di atas, rasanya Pancasila akan mampu kembali untuk mempertahankan eksistensinya, ditambah dan diperkuat lagi oleh pernyataan Azyumardi Azra bahwa Pancasila merupakan ideologi yang bersahabat dengan agama (religiously friendly ideology) dan Pancasila sudah menjadi bagian integral dari tradisi keislaman Indonesia.

Dengan begitu, ancaman untuk mengganti Pancasila sebagai ideologi merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan di Indonesia. Ancaman tersebut hanya merupakan ancaman semu, ancaman yang kita tahu bersama bahwa Pancasila akan bisa mempertahankan eksistensinya. Lantas, apa ancaman sesungguhnya terhadap Pancasila?
Ancaman sesungguhnya terhadap Pancasila sekarang ini bukan tentang persoalan Pancasila sebagai pilar atau dasar, bukan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa atau Ketuhanan disertai tujuh kata. Ancaman mendesak Pancasila sekarang adalah degradasi pemaknaan Pancasila sebagai dasar negara bagi masyarakat.
Pancasila yang dulu terjaga kesakralannya dalam masyarakat Indonesia, Pancasila yang dulu menjadi identitas kolektif bersama kini berubah menjadi sekedar slogan, simbol dan hipokrisi yang hanya kita hafalkan, kita bacakan ayat-ayatnya dalam setiap upacara bendera, kita pelajari ulang sejarah dan kedudukannya ketika akan melakukan tes CPNS, dielu-elukan ketika masa kampanye PEMILU.
Keadaan tersebutlah kiranya menjadi cerminan kondisi masyarakat Indonesia sekarang yang serba “darurat” ini. Darurat narkoba, darurat prostitusi dan darurat kebudayaan.
Revitalisasi Pancasila
Gempuran dahsyat arus globalisasi memang menuntut suatu bangsa harus mempunyai cara bertahan (self defence) dalam menghadapinya. Semakin menyempitnya jarak diiringi arus komunikasi yang kian terbuka, membuka peluang akan masifnya pertukaran kebudayaan di seluruh dunia.
Jika suatu bangsa gagal dalam membangun cara bertahan tersebut, maka budaya mereka akan tergerus oleh budaya negara lain yang lebih siap dalam menghadapi globalisasi. Hal tersebut menjadi alasan mengapa kebudayaan negara maju bisa begitu dominan secara global. Sementara, kebudayaan negara berkembang semakin tergerus oleh kebudayaan negara maju.

Indonesia merupakan bangsa yang sangat heterogen. Hildred Geertz (1963) dengan baik menggambarkan bahwa terdapat lebih dari 300 kelompok etnis di Indonesia yang masing-masing memiliki identitas kultural sendiri, dan lebih dari 250 jenis bahasa dipakai. Selain itu, hampir semua agama dunia terwakili, di samping agama-agama lokal yang banyak sekali jumlahnya.

Dengan kondisi masyarakat yang heterogen dan intensitas penduduk yang sangat tinggi, Indonesia menjadi tujuan strategis globalisasi. Pengaruh globalisasi yang disertai degradasi pemaknaan Pancasila seperti yang dijelaskan di atas, menjadi akar berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia sekarang.

Masyarakat tidak bisa berpikir simplistik dengan menyalahkan semuanya kepada pemerintah. Harus ada usaha sinergis antara pemerintah dengan masyarakat untuk menyelesaikan problematika tersebut. Salah satu langkah dasar dalam penyelesaiannya adalah merevitalisasi Pancasila.

Revitalisasi Pancasila adalah usaha untuk mengembalikan Pancasila sesuai dengan fungsinya, atau bahasa populernya adalah mengembalikan Pancasila sesuai dengan khittah-nya. Dengan demikian, Pancasila bisa dikembalikan sakralitasnya menjadi pedoman atau way of life bagi bangsa Indonesia.

Pancasila kembali menjadi identitas kolektif yang mengikat masyarakat Indonesia ke dalam payung persatuan. Sehingga, Indonesia memiliki self defence dalam menghadapi globalisasi dan masyarakat tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila dalam kesehariannya.

Memang upaya revitalisasi tersebut tidak mudah dan akan menemui beberapa hambatan.

Pertama, masyarakat Indonesia pernah memiliki pengalaman buruk mengenai politisasi Pancasila. Pancasila berada dalam masa gelap ketika ia dijadikan sebagai alat politik untuk melegitimasi kekuasaan rezim dalam waktu yang sangat lama. Sehingga, ketika rezim tersebut runtuh, masyarakat menjadi trauma dan apatis terhadap pengamalan Pancasila.
Kedua, sebagian besar pemimpin bangsa Indonesia hari ini merupakan masyarakat yang mengalami zaman kegelapan Pancasila tersebut. Karena itu output dari kebijakan mereka seakan memperlakukan Pancasila sebagai slogan dan simbol semata.

Ketiga, minimnya porsi untuk mata pelajaran sejarah dan kewarganegaraan dalam kurikulum yang berlaku sekarang, menyebabkan kurangnya kesadaran sejarah pada pelajar selaku penerus kepemimpinan bangsa. Hal tersebut penting diperhatikan karena kesadaran sejarah dan budi pekerti masuk ke dalam salah satu poin Nawa Cita yang menjadi janji kampanye Presiden Jokowi.

Di samping itu, hal di atas juga menyebabkan pelajar sekarang kurang memiliki rasa nasionalisme dan menjauh dari jati diri bangsa. Namun, hambatan-hambatan tersebut merupakan tantangan yang harus ditaklukkan oleh segenap bangsa Indonesia hari ini. Melalui perjuangan yang sinergis antara pemerintah dengan masyarakat maka upaya untuk mewujudkan revitalisasi Pancasila bisa dimulai dari sekarang.

Tantangan tersebut akan terjawab bila kita kembali ke pidato heroik Sukarno dalam Lahirnya Pancasila.

“Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi suatu realiteit, janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya: ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan,” katanya dengan lantang.

sumber:

Info Kastrat
Departemen Kajian Strategis
BEM Kema FMIPA Unpad Kabinet Seru 2016
Lantangkan ide-ide berbahayamu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s